Selamat Datang!

Sabtu, 13 Februari 2010

Sastra Indonesia

PERIODESASI SASTRA INDONESIA

A. Pengertian
Sejarah sastra Indonesia merupakan studi sastra yang membahas perkembangan sastra Indonesia sejak lahirnya sampai perkembangannya yang terakhir. Hal ini terjadi karena sastra Indonesia itu selalu mengalami perkembangan dari periode ke periode. Periodesasi berarti pembabakan, periodesasi sastra Indonesia bermakna pembabakan sastra Indonesia berdasarkan perkembangannya dari waktu ke waktu, atau dari periode ke periode. Periode menurut Wellek adalah bagian waktu yang dikuasai oleh sistem norma dan konversi sastra yang kemunculannya, penyebarannya, keragamannya, integrasi dan kelenyapannya dapat dirunut. Periode-periode sastra tidak tersusun secara mutlak atau dipatok dalam tahun yang pasti, karena periode-periode saling tumpang tindih yaitu sebelum periode angkatan sastra yang satu lenyap, sudah muncul angkatan sastra yang lainnya. Angkatan sastra adalah sekumpulan sastrawan yang hidup dan berkarya dalam satu kurun masa (periode tertentu). Mereka memiliki kemiripan dalam hal ide, gagasan, dan misi yang dituangkan dalam karya sastra masing-masing. Maka karya sastra suatu angkatan merupakan kumpulan karya sastra yang menunjukkan adanya kesamaan atau kemiripan ciri-ciri instrinsik antar sastrawannya.

B. Periodesasi sastra Indonesia dan ciri-cirinya
Pandangan berbagai pengamat sastra Indonesia (Ahli Sastra) tentang perkembangan sastra Indonesia dari masa ke masa (Periodesasi Sastra Indonesia) berbeda-beda karena sudut pandang mereka yang berbeda pula , tetapi walaupun demikian pada hakekatnya mempunyai titik persamaan.
Pada umumnya periodesasi sastra Indonesia yang terdapat pada buku-buku yang beredar di tanah air kurang memuaskan, karena dasar periodesasinya kurang tepat seperti periodesasi Nugroho Notosusanto, H.B. Yassin, Ayip Rosidi dan lain-lain, yang didasarkan atas politik dan nasionalisme , seharusnya periodesasi sastra yang tepat adalah yang berdasarkan ciri-ciri instrinsik karya sastra sesuai dengan hakekat sastra itu sendiri, seperti yang disampaikan oleh Rahmat Joko Pradopo. Beliau membagi periodesasi sastra Indonesia modern atas periode angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru, periode angkatan 45, angkatan 50 dan angkatan 70.
Jadi secara garis besar perkembangan kesusastraan Indonesia itu dibagi atas Masa Kesusastraan Lama , Masa Peralihan dan Masa Kesusastraan Baru (Modern). Pembagian ini untuk melihat proses kesusastraan Indonesia dari masa lampau sampai sekarang ini.
1. Kesusastraan Lama ( Melayu Klasik )
a. Kesusastraan Zaman Purba/ Kuno
b. Kesusastraan Zaman Hindu
c. Kesusastraan Zaman Islam
2. Kesusastraan Peralihan
3. Kesusastraan Baru ( Modern )
a. Periode tahun 20-an ( Balai Pustaka )
b. Periode tahun 30-an ( Pujangga Baru )
c. Periode 45 ( Angkatan 45 )
d. Periode 50-an ( Angkatan 50 ) atau oleh H.B. Yassin disebut Angkatan 66
e. Periode 70-an ( Angkatan 70 / Mutakhir )

1. Kesusastraan Lama ( Melayu Klasik )
Periode Melayu Klasik dimaksudkan sebagai sastra milik suku-suku bangsa Indonesia di Nusantara sebelum timbulnya perjuangan kebangsaan atau nasionalisme Indonesia yang berawal dari gerakan Budi Utomo 20 Mei 1928 dan dilanjutkan pada peristiwa Sumpah Pemuda 28 )ktober 1928 . Masa ini terbagi dalam tiga periode yaitu sastra zaman purba/kuno yang mencerminkan sastra nenek moyang suku-suku bangsa Indonesia dahulu kala di Nusantara yang sifat sastranya masih “ asli “ . Setelah masuk masuknya kebudayaan Hindu di Nusantara abad ke- 7, kesusastraan Indonesia mendapat pengaruh dan berkulturasi dengan kebudayaan Hindu, sehingga menghasilakan sastra zaman Hindu yang memiliki corak kehinduan. Demikian pula dengan kedatangan kebudayaan Islam di Nusantara pada abad ke-13, kesusastraan Nusantara mendapat pengaruh dan berkulturasi dengan sastra Islam, sehingga menghasilkan sastra zaman Islam yang bercorak keislaman.
1.1 Kesusastraan zaman purba/kuno
Masyarakat zaman purba hidup dalam suasana takut kepada roh yang menurut anggapan mereka bersarang dimana-mana. Guna memelihara hubungan dengan roh orang mempergunakan mentera, doa, dengan kata-kata pilihan dan bentuk yang tepat. Untuk tiap keperluan ada mentera dan doa tertentu dan biasanya tidak semua orang bisa mengucapkannya, yang biasa biasanya hanyalah pawang atau orang yang sudah biasa mendapatkan kekuatan gaib.
Sebelum tahun 1500 kesusastraan Melayu bersifat cerita dari mulut ke mulut yang disampaikan oleh tukang cerita yang disebut pawang. Bentuk kesusastraan yang pertama-tama adalah :
a. Mentera-mentera, doa-doa atau ucapan-ucapan sakti yang diucapkan oleh pawing.
b. Dongeng-dongeng kepercayaan misalnya : tentang dewa dewi, binatang jadi-jadian dan sebagainya.
Contoh Mantera yang diucapkan pawang saat hendak bertanam padi agar benih-benih yang ditanam dapat tumbuh subur :
“ Seri Dangumala ! Seri Dangumala !
Hendak kirim anak sembilan bulan
Segala inang segala pengasuh
Jangan beri sakit jangan beri demam
Jangan beri ngilu dan pening
Kecil menjadi besar
Tua menjadi muda
Yang tak sama dipersamakan
Yang tak kejap diperkejap
Yang tak hijau diperhijau
Yang tak tinggi dipertinggi
Hijau seperti air laut
Tinggi seperti bukit kap.
1.2 Kesusastraan zaman Hindu
Ketika orang-orang Hindu datang ke Indonesia maka masuk pulalah pengaruh kebudayaannya. Begitu pula halnya dengan kesusastraannya. Sistem feodalisme yang dibawanya ke mari makin lama makin kuat kedudukannya. Sejak itu hidup kebudayaan berpusat pada kraton dan sudah barang tentu kesusastraannya pun menjadi kraton sentris.
Contoh hasil kesusastraan zaman Hindu antara lain :
1. Mahabharata disusun oleh Wiyasa
2. Ramayana oleh Wamukti
3. Pancatantera.
Mahabharata ini bagi orang Hindu bukan hanya buku hikayat pahlawan nusa saja tetapi lebih dari itu Mahabharata sebuah buku agama, kesusilaan, hokum, filsafat dan sebagainya dan merupakan pegangan hidup disamping Kitab Weda.
Contoh Cerita Ramayana :
Ramayana adalah salah satu wira cerita (epos) yang disusunoleh Walkimi yang isinya adalah : Melukiskan apa sebab Rama kehilangan haknya atas tahta kerajaan Ayodhya. Kemudian Rama mengundurkan diri kehutan Dandhaka bersama istrinya Dewi Sinta dan Laksamana selama 14 tahun. Di hutan Dewi Sinta dilarikan oleh Rahwana dari negeri Lengka. Tetapi akhirnya dapat direbut kembali oleh Rama berkat bantuan Sugriwa dan Hanuman.
1.3 Kesusastraan zaman Islam.
Agama Islam masuk ke Indonesia melalui Parsi dan masuknya agama Islam besar pengaruhnya terhadap kebudayaan Indonesia khususnya dalam bidang kesusastraan. Ke dalam kesusastraan Indonesia masuklah cerita-cerita dari Arab dan Parsi dalam bentuk prosa maupun puisi. Cerita Indonesia asli pun ada yang telah kemasukan unsur agama Islam.
Contoh hasil karya zaman Islam antara lain :
1. Kitab-kita yang bersifat agama Islam seperti Kitab Risalah dan Kitab Fikih
2. Hikayat-hikayat Islam antara lain : Hikayat Nabi Muhammad, Hikaya Nabi Yusuf , Hikayat Nabi Daud , Hikayat Nabi bercukur, Hikayat Nabi Ibrahim, Hikayat Nabi Sulaiman, Hikayat Nabi Musa, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Muhammad Ali Hanafiah, Hikayat Raja Badar, Hikayat 1001 Malam, Hikayat Bachtiar, Tajjusalatina, Bustanusalatina, cerita-serita berbingkai, Hikayat Bayan Budiman, cerita Pelipur lara seperti : cerita Si Umbut Muda, Kaba Sabai Nan Aluih, Hikayat Malim Deman, Hikayat Anggun Cik Tunggal, Hikayat Si Miskin, cerita Si Malim Kundang, dan lain-lain.
Beberapa pengarang Kesusastraan Lama dengan hasil karyanya adalah :
1. Hanzah Fansuri hidup pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 di Barus, Aceh. Karangannya antara lain : Syair Perahu, Syair Dagang, Syair Si Burung Pingai
2. Nuruddin Ar-Raniri hidup di istana Sultan Aceh karangannya antara lain : Bustanu’ssatina dan Sirata ‘I mustaqim.
3. Buchari Al Jauhari karangannya : Tajussalatina (Mahkota Raja-raja)
4. Tun Muhammad Sri Lanang karangannya : Sejara Melayu
5. Raja Ali Haji karyanya Gurindam Dua belas dan Syair Abdul Muluk.
Contoh Hikayat 1001 Malam isinya adalah menceritakan seorang Raja yang sangat lalim. Setiap malam raja itu menghendaki seorang cantik dan pada keesokan harinya sebelum matahari terbit perempuan itu disuruh dibunuh. Demikianlah aniaya raja itu. Akhirnya sampailah giliran seorang putri yang amat cantik dan pandai bercerita. Waktu hari akan pagi yaitu waktu datang saat ia akan dibunuh, perempuan itu menceritakan sebuah cerita yang ajaib. Demikianlah diperbuat perempuan itu pada tiap-tiap malam ia menceritakan cerita yang ajaib-ajaib sampai 1001 mala atau kurang lebih 3 tahun lamanya. Dengan jalan mendengar cerita itu raja lalu insaf akan dirinya, sehingga ia tobat dari dosanya dan perempuan itu lalu dijadikannya sebagai permaisurinya.


2 Kesusastraan masa Peralihan
Pada permulaan abad ke – 19 tampak suatu usaha meninggalkan cara-cara karang mengarang seperti yang lazimdianut orang pada zaman dahulu. Masa ini sering disebut masa Peralihan. Adapun yang dimaksud ialah peralihan dari sastra lama ke sastra baru .
Usaha ini dilancarkan oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi 1797-1854). Karena dialah satu-satunya pengarang yang kenamaan pada masa itu, maka masa peralihan sering juga disebut masa Abdullah.
Abdullah lahir pada tahun 1797, ayahnya bernama Syeikh Abdulkadir berasal dari Arab sedangkan ibunya berasal dari India. Buah karya Abdullah dianggap bercorak baru dibandingkan sebelumnya. Perbedaan-perbedaannya dengan sastra lama ialah dari segi bentuk dan isinya. Isinya menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dari orang-orang biasa seperti riwayat hidup sendiri dan pengalaman dalam perjalanan.
Hasil karya Abdullah antara lain :
Hikayat Abdullah, Kisah Pelayaran Abdullah bin Abdulkadir Munsyi ke Kelatan, Hikayat Pancatanderan (saduran), dan Kisah Pelayaran Abdullah ke negeri Jedah serta terjemahan Pancatantera dari bahasa Tamil ke dalam bahasa Melayu.

3. Kesusastraan Baru ( Modern ).
Setelah Indonesia menerima pengaruh kebudayaan modern awal abad ke-20 yang ditandai oleh perjuangan kebangsaan ( Nasionalisme ) yang dipelopori oleh gerakan Budi Utomo 1908, lalu berlanjut pada peristiwa Sumpah Pemuda 1928 yang mengirarkan istilah “Indonesia“ sebagai tanah air, bangsa dan bahasa , maka periode kesusastraan memasuki periode Sastra Baru (Modern).
Menurut Abdul Hadi W.M mengemukankan lahirnya angkatan baru lebih banyak ditentukan oleh adanya gagasan baru dalam bidang sastra yang disebabkan adanya peristiwa-peristiwa penting yang terjadi atau ada sastrawan baru yang membawa gagasan sastra baru dan banyak pengikutnya. Dalam kesusatraan Indonesia hal itu sedah nyata. Peristiwa penting itu seperti pergerakan kebangsaan, Perang Dunia, masuknya Jepang ke Indonesia, Proklamasi Kemerdekaan, dibukanya sekolah-sekolah untuk bumiputra oleh penjajah Belanda dalam arti untuk melayani minat baca di kalangan rakyat pada waktu itu, dan terjadinya peristiwa-peristiwa lain. Hal itu akan menyebabkab timbulnya angkatan dalam sastra kesusastraan Indonesia baik langsung ataupun tidak. Selain itu juga untuk Periode Sastra Modern ini terbagi atas lima periode atau angkatan yaitu periode 20-an ( Balai Pustaka ), periode 30-an ( Pujangga Baru ), periode 50-an yang disebut H.B.Yassin Angkatan 66 , periode 70-an ( Angkatan 70 )
Dalam uraian berikut kita akan mengemukan penjelasan tiap-tiap periode atau angkatan dalam sastra Indonesia yang didasarkan pada latar budaya dan corak kesusatraannya sebagai berikut:
3.1 Periode 20-an ( Balai Pustaka )
Ini berarti bahwa lahirnya Angkatan Balai Pustaka sekitar tahun 1920-an dan melemahnya kekuatan dan lenyapnya disekitar tahun 1940 waktu integrasinya kekuatan sastra Balai Pustaka antara 1925 – 1935. Di anrata tahun – tahun itu terbit sebagian besar karya-karya roman Balai Pustaka yang kuat Di antarannya : Salah pilih ( 1928 ), Katak Hendak Jadi Lembu ( 1935 ) , Salah Asuhan ( 1928 ), Pertemuan Jodoh (1933), Sengsara Membawa Nikmat (1932) , Kehilangan Mustika (1935) , Ni Rawit ( 1935 ) dan lain-lain. Kurun waktu antara tahun-tahun itu dapat dianggap sebagai masa terintegrasi periode (Angkatan) Balai Pustaka. Sesudah 1935 kekuatannya mulai melemah , namun masih terbit karya-karya ( roman-roman ) yang baik, yang kuat seperti Neraka Dunia (1917), Kalau Tak Untung ( 1938), Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1939) dan lain sebagainya.
Ciri-ciri Angkatan Balai Pustaka antara lain jenis sastranya terutama roman yang umumnya beralur lurus terkecuali Azab dan Sengsara (Merari Siregar) dan di bawah Lindungan Ka’bah ( Hamka ), gaya bahasanya menggunakan perumpamaan klise dan peribahasa-peribahasa, tapi menggunakan bahasa percakapan sehari-hari , banyak digrasi bercorak romantik dan bersifat didaktis.
3.2 Periode 30-an ( Pujangga Baru ).
Sesungguhnya para sastrawan Pujangga Baru telah menulis sajak-sajak di sekitar tahun 1920, namun sekitar tahun 1930 menunjukkan ciri-ciri periode atau angkatan yang kuat, seperti tampak dalam karya-karya Indonesia Tumpah Darahku (1929), Madah Kelana (1931) , Dian Yang Tak Kunjung Padam (1932). Sekitar tahun 1930 gagasan Pujangga Baru mulai menyebar luas hingga akhirnya terintegrasinya, masa kuat-kuatnya menunjukkan ciri-ciri sastra Pujangga Baru adalah antara 1933-1940.Di antara tahun itu terbit karya-karya utama seperti Layar Terkembang (1936), Belenggu (1940), Sandhyakalaning Majapahit (1933), Manusia Baru (1940), Nyanyi Sunyi (1937), Rindu Dendam (1934 ). Sesudah tahun 1940 kekuatan sastra Pujangga Baru mulai melemah, dan akhirnya sekitar 1945 sudah digantikan peranannya oleh Angkatan 1945.
Ciri-ciri sastranya jenis sastra puisi dominan, tetapi ada juga drama, cerpen, roman yang hanya beraliran romantik, puisinya jenis puisi baru dan soneta, menggunakan kata-kata nan indah, bahasa perbandingan, gaya sajaknya diafan dan polos, rima merupakan sarana kepuitisan.
Sastra prosanya menggunakan watak tehnik perwatakan tidak analisis langsung, alurnya erat karena tak ada digresi, mempersoalkan kehidupan masyarakat kota seperti emansipasi, pemilihan, pekerjaan, diwarnai ide nasionalisme dan cita-cita kebangsaan serta bersifat didaktis.
3.3 Periode 45 ( Angkatan 45 )
Pada masa kekuasaan fasisme Jepang di Indonesia , sekitar tahun 1942 telah muncul suatu angkatan sastra yang merasa lain dari angkatan Pujangga Baru. Menurut H.B. Yassin, kelainan itu sangat jelas pada penyair Chairil Anwar mengenai pandangan hidup, sikap hidup, rasa hidup dan pengucapan dalam persajakan. Begitu pula pengarang Idrus, persoalan-persoalan dalam prosesnya belum pernah dikenal dalam Pujangga Baru. Ida Nasution juga menggunakan prosa yang bersifat lain dari sebelumnya, oleh kepadatannya dan kelangsungan pengucapannya.
Nama angkatan ini baru didapat pada tahun 1949 dan untuk pertama dilansir dalam majalah Siasat 9 Januari 1949 oleh Rosihan Anwar. Untuk angkata 45 menjadi penting sekali kemerdekaan itu. Angkatan 45 ini disebut juga Angkatan Kemerdekaan. Sebelum angkatan ini popular angkatan ini disebut Angkatan Chairil Anwar, Angkatan sesudah Perang, Generasi Gelanggang dan ada juga yang menyebutnya Angkatan Pembebasan. Lahirnya angkatan ini merupakan bukti ketidaksetujuan para sastrawan terhadap pengaruh Jepang dan Belanda .
Di sekitar tahun 1940 itu penulis Angkatan 45 mulai menulis karya-karya sastranya. Tanggal tertua yang terdapat dalam antologi H.B. Yassin Gema Tanah Air adalah 28 Nopember 1942, tanggal dimuatnya sajak “ Bunglon “ karya Ashar. Sajak Chairil Anwar yang tertua tertanggal Oktober 1942 sajak “ Nisan “ dan “ Kehidupan “ Desember 1942. Periode 1940-1955 ini diisi oleh karya-karya sastra para sastrawan yang mulai menulis pada permulaan tahun 40-an meskipun ada juga yang telah menulis pada tahun 30-an. Masa produktif angkatan ini antara 1943-1953. Kurang lebih dalam masa sepuluh tahun. Sesudah itu kekuatannya melemah. Dalam arti sesudah itu para sastrawan angkatan ini jarang menulis ataupun berhenti menulis meskipun ada juga yang terus menulis sampai sekarang misalnya Muchtar Lubis dan Sitor Situmorang. Selama waktu sepuluh tahun itu dapat dikatakan karya-karya sastra mereka belum dibukukan, melainkan terbit dalam majalah-majalah. Baru sesudah tahun 1950 karya mereka dapat terbit sebagai buku . Bahkan karya Chairil Anwar , sastrawan yang dianggap sebagai pelopor Angkata 45, baru dapat terbit sebagai buku sesudah ia meninggal, yaitu Deru Campur Debu ( 1949 ) dan Kerikil Tajam dan Yang Terhempas dan Terputus (1951). Sebagian besar karya sastrawan Angkatan 45 dan sastrawannya dapat terlihat dalam dua buku antologi H.B. Yassin, yaitu Kesustraan Indonesia di Masa Jepang (1948) dan Gema Tanah Air (1948).
Periode 45 atau Angkatan 45 dengan ciri-ciri sastranya puisi, cerpen, novel, drama berkembang pesat dengan mengetengahkan masalah kemanusiaan umum dan humanisme universal seperti : kesengsaraan hidup, hak-hak asasi manusia, dengan gaya realitas bahkan sinis ironis, disamping mengekpresikan kehidupan batin/kejiwaan , dengan mengenal filsafat ekstensialisme.
Pada karya sastra puisi menggunakan puisi bebas dengan gaya ekspresionistis, simbolik realis, gaya sajaknya presmatis dengan kata-kata yang ambigu dan simbolik, dengan bahasa kiasan seperti metapora, juga ironi dan sinisme.
3.4 Periode 50-an ( Angkatan 66 )
Pada tanggal 6-9 Mei 1966 Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia bersama dengan KAMI dan KAPPI menyelenggarakan sebuah Simposium berjudul “ Kebangkitan Semangat 1966: Menjelajah Tracee Baru Lekra dan Neoleranisme “.Dominasi kebudayaan oleh politik, tegas-tegas ditolak. Selama symposium inilah untuk pertama kali perserta mulai menamakan dirinya sebagai Angkatan 66, dan secara terbuka menyatakan kebebasan pada umumnya sebagai nilai kemanusiaan yang hakiki.
Dari kelompok ini, majalah bulanan baru Horisan , segera terbit sebagai suara sastranya. Nomor pertama majalah ini beredar bulan Juli 1966 dengan Muchtar Lubis sebagai pemimpin redaksi. Nomor kedua memuat karangan H.B. Yassin “ Bangkitlah Satu Generasi “ yang menyatakan tentang lahirnya satu Angkatan sastra baru yaitu Angkatan 66.
Dalam periode ini karya sastra merupakan tulisan para sastrawan yang pada umumnya menulis pada awal tahun 50-an dan 60-an. Antara 1950-1955 para sastrawan Angkatan 45 masih menerbitkan karya-karya satranya, sementara sastrawan-sastrawan baru mulai menulis . Angkatan sastra 50 ini dapat dikatakan terintegrasi 1955-1965. Corak sastra periode 1950-1970 ini agak beragam karena adanya para sastrawan yang mendukung ieologi partai dan sastrawan bebas. Pada kurun waktu ini sastra Indonesia dipengaruhi oleh situasi social, politik dan ekonomi. Pada kurun waktu ini ada peristiwa penting yaitu pemberontakan G 30 S/PKI pada 1965 yang berakibat disingkirkannya para sastrawan Lekra dan karya-karyanya yang idelogi komunis. Namun ciri-ciri sastra intrinsik belum berubah sampai tahun 1970.
Sastrawan-sastrawan yang muncul dalam periode ini antara lain W. S. Rendra (Balada Orang-orang Tercinta), Toto Sudarto Bachtiar (Suara), Nugroho Notosusanto (Hujan Kepagian dan Tiga Kota ), Ramadhan K.H (Periangan Si Jelita), Trisnoyuwono (Lelaki dan Mesiu ), N.H Dini (Dua Dunia), Toha Mochtar (Pulang), B. Sularto (Domba-domba Revolusi), Subagyo Sastrowardoyo (Simphoni).
Periode 50 yang memiliki ciri-ciri sastra meneruskan gaya angkatan 45 terutama struktur estetiknya, mempersoalkan masalah kemasyarakatan yang baru dalam suasana kemerdekaan , dengan berorientasi pada bahan-bahan sastra dari kebudayaan Indonesia sendiri, karena dampak partai-partai corak sastranya bermacam-macam ada yang beride keislaman ( Lesbumi ), ide kenasionalan (LKN), ide Komunis dengan semboyan seni untuk rakyat (Lekra dan) ada yang bebas mengabdi kemanusiaan.
3.5 Periode Angkatan 70-an ( Sastra Mutakhir/Sastra Kontemporer )
Perjalanan sastra Indonesia sejak zaman Abdullah dengan Hikayat Abdullahnya kemudian disusul secara berturut-turut oleh angkatan : Balai Pustaka, Pujangga Baru, 45 atau 66 kini secara relatif berakhir pada sastra mutakhir/sastra kontemporer. Wajar apabila masing-masing angkatan membawa suatu pembaharuan karena pada dasarnya sastra merupakan hasil karya manusia yang akan terus berkembang apabila aturan-aturan ataupun fenpmena-fenomena yang terkandung dalam tiap-tiap periode/angkatan mempunyai perbedaan akibat pembaharuan yang dibawa masing-masing.
Perbedaan-perbedaan tersebut lebih banyak disebabkan oleh situasi masyarakat pada saat suatu karya sastra dihasilkan. Di samping itu tidak dapat juga dibantah adanya pengaruh kemajuan sastra diluar negeri. Dan hal ini tidak hanya terjadi pada bidang puisi, drama ataupun cerita pendek saja, tetapi juga pada bidang roman/novel.
Sastra kontemporer muncul pada dekade 70-an lebih diwarnai oleh kegelisahan masyarakat Indonesia. Perjalanan batin akan dijelajahi para pembaca novel tahun 1970-an adalah pengalaman kegelisahan, baik berupa kegelisahan sosial, kegelisahan batin maupun kegelisahan rumah tangga.
Para sastrawan yang karya-karyanya memberi corak sastra periode ini pada umumnya sudah mulai menulis pada tahun 60-an, lebih-lebih sesudah 1965, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Danarto dan Kuntowijoyo, telah menulis sejak awal tahun 60-an. Akan tetapi karya yang penting, karya garda depannya, baru terbit sekitar tahun 1970. Masa integrasi Angkatan 70 ini adalah selama dekade 70-an, dengan karya sastra Merahnya Merah, Ziarah, dan Kering karya Iwan Simatupang, Godlob, karya Danarto, cerpen-cerpen Budi Darma yang belum dibukukan Kotbah di atas Bukit novel Kunto Wijoyo, novel-novel Putu Wijaya Telegram dan Stasiun serta dramanya Aduh, drama-drama Arifin C. Noor Kapai-kapai, dan sebagainya.
Dalam bidang puisi di antara yang menonjol adalah Sutardji C.Bachri dengan O, Amuk Kapak, karya Sapardi Djoko Damono, Akuarium, Mata Pisau dan Perahu Kertas, Gunawan Muhammad Prelude, dan sajak-sajak Abdul Hadi W.M dan Darmanto Jt.
Tokoh-tokoh penting sastrawan angkatan 70 ini sebenarnya telah muncul pada periode angkatan 50 yang menulis pada era 60-an seperti : Umar Kayam (Bawuk, Sri Sumarah), Gunawan Muhammad ( Asmaradana), Tufik Ismail (Tirani). Bur Rasuanto (Mereka Telah Bangkit), Sapardi Djoko Damono ( Dukamu Abadi), Abdul Hadi WM (Meditasi), Sutardji C. Bachri (O, Amuk), Linus Suryadi ( Pengakuan Pariyem), Iwan Simatupang (Merahnya , Kering), J.B. Mangunwijaya (Burung-burung Manyar), Budi Darma (Olenka), N.H.Dini (Pada Sebuah Kapal).
Periode Angkatan 70-an dengan ciri-ciri sastranya dalam karya sastra puisi muncul 4 jenis gaya puisi yaitu puisi mantera, puisi imajisme, puisi lugu dan puisi lirik. Puisi-puisi mempersoalkan masalah sosial, kemiskinan, pengangguran, jurang kaya miskin, menggunakan cerita-cerita dan kepercayaan rakyat dalam balada. Prosesnya menggabarkan kehidupan masyarakat sehari-hari, kehidupan pedesaan dan daerah, seperti Pulang karya Toha Mochtar, Di Tengah Padang (Bastari Asmin), Penakluk Ujung Dunia (Bokor Hutasuhut).

C. Sastrawan dan karya-karya puncaknya setiap angkatan
a. Sastrawan Angkatan 20-an ( Balai Pustaka )
Sastrawan yang berkiprah serta hasil karyanya pada angkatan ini antara lain adalah :
1. Marah Rusli
Roman Azab dan Sengsara karya Merari Siregar memang merupakan roman pertama yang mempersoalkan kawin paksa, yang selanjut sekitar belasan tahun lamanya menjadi tema penting dalam
roman-roman Indonesia.Namun dengan terbitnya roman Siti Nurbaya tahun 1922, oleh Marah Rusli, dinilai olek kritikus Zuber Usman, sebagai tokoh penting dari generasi Balai Pustaka, yang menjadi pelopor kesusastraan baru Indonesia. Persoalan cerita yang dikemukakan Marah Rusli dalam karangannya sudah berbeda sekali dengan cerita-cerita seperti Hikayat dan semacamnya yang bersifat fantasi belaka. Dalam Siti Nurbaya dilukiskan keadaan yang sungguh-sungguh ada dalam masyarakat atau merupakan gambaran suatu segi masyarakat yang patut menjadi perhatian di zaman itu yaitu soal
adat dan perkawinan. Dari gaya dan persoalan cerita yang dikemukakan pengarang Siti Nurbaya lebih menarik perhatian. Zuber Usman menilai Marah Rusli pengarang Indonesia yang pertama berani mengupas soal kemasyarakatan yang tak sesuai lagi dengan aliran zaman, seperti “orang jemputan” “kawin paksa” dan lain-lain. yang menjadi persoalan yang biasa terjadi di kalangan bangsawan di kota Padang. Cerita Siti Nurbaya ini menceritakan Baginda Sulaiman ayah Siti Nurbaya terpaksa meminjam uang dengan Saudaragar kaya , Datuk Maringgih. Dengan kekuasaan, uang dan harta Datuk Maringgih yang bertabiat keji itu dapat merebut Siti Nurbaya dari kekasihnya Syamsul Bachri. Siti Nurbaya .
Marah Rusli dilahirkan tahun 1889 di Padang, ayahnya Demang St. Abu Bakar gelar Sutan Pangeran, seorang bangsawan kota Padang.ia menamatkan Sekolah Melayu di padang (1904) , lalu Sekolah Raja (1910) di Bukit Tinggi dan Sekolah Dokter Hewan di Bogor. Ia meninggal taun 1968 di Bandung. Hasil karyanya adalah Siti Nurbaya (1922), roman Anak dan Kemanakan , Lahami. Karya puncaknya adalah Siti Nurbaya.
2. Merari Siregar dengan karyanya Azab dan Sengsara (1921), dan lain-lain.
3. Adinegoro karyanya Darah Muda (1927) dan Asmara Jaya (1928), Melawat ke Barat , dan lain-lain. Karya puncaknya adalah Darah Muda dan Asmara Jaya.
4 Abdul Muis karyanya Salah Asuhan (1928), Pertemuan Jodoh (1933), Pangeran Hindi ( terjemahan).Karya puncaknya adalah Salah Asuhan.
5. Mohammad Yamin dengan karyanya adalah sajak Tanah Air, Bahasa Bangsa, drama Ken Arok dan Ken Dedes (1934), Kalau Dewi Tara Sudah Berkata (1932), roman Gajah Mada dan Pangeran Diponegoro, serta terjemahan-terjemahan. Karya puncaknya adalah Tanah Air.
6. Hamka dengan karyanya adalah karyanya Tenggelamnya Kapal Van Der Wijch (1939), dan lain-lain.

b. Sastrawan Angkatan 30-an ( Pujangga Baru )
Sastrawan yang berkiprah dan hasil karyanya pada angkatan ini antara lain adalah :
1. Sutan Takdir Alisyahbana
Sutan Takdir Alisyahbana sebagai motor Pujangga Baru setelah menamatkan Sekolah Guru Sambunga (Schakel School) tahun 1928-1930 di Palembang , kuliah di Sekolah Hakim Tinggi tahun 1942 di Jakarta. Bersama Amir Hanzah dan Sanusi Pane mendirikan Majalah Pujangga Baru. Ia juga dikenal sebagai Dosen di Fakultas Darurat RI, Universitas Nasional dan mendirikan Yayasan Maju Ilmu dan Kebudayaan, mengasuh beberapa sekolah menengah dan Unas,serta anggota KNIP.
Layar Terkembang merupakan roman yang terpenting dan tergolong roman bertendens. Lewat tokoh Tuti dikemukkannya pendapat dan pandangannya tentang peranan wanita dan kaum muda dalam kebangunan bangsa. Kisahnya adalah tentang dua orang gadis bersaudara, Tuti dan Maria. Tuti sebagai gadis yang tergolong kaum muda, aktif dalam gerakan wanita. Ia merasa berkewajiban untuk membela kedudukan kaumnya di mata laki-laki. Tetapi ia pun berjuang melawan hatinya sendiri yang tak lepas dari sifat (kodrat) kewanitaan yang memimpikan suami dan menjadi seorang ibu. Maria seorang gadis periang lincah. Tuti dan Maria berkenalan dengan Yusuf, seorang mahasiswa kedokteran. Meskipun pada mulanya Yusuf tertarik pada Tuti, tetapi ia kemudian menjadi kekasih Maria. Kematian Maria karena penyakit TBC, terasa terlalu dipaksakan pengarang yang hanya mau mempertemukan cinta Yusuf dan Tuti …
Selain Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana misalnya Tak Putus Dirundung Malang, Dian Tak Kunjung Padam (1932), Tebaran Mega (1936), Bunga Rampai Puisi Lama (1941), dan lain-lain. Puncak karyanya adalah Layar terkembang (1936)
2. Armin Pane dengan karyanya Belenggu 1940), Barang Tiada berharga , Kisah Antara Manusia, Puisi Jiwa Berjiwa, Kumpulan puisi Gamelan Jiwa (1960), dan Kumpulan drama Jinak-jinak Merpati ( 1960), puncak karyanya adalah Belenggu.
3. Amir Hamzah dengan karyanya kumpulan puisi Nyanyi Sunyi (1937), Sajak Padamu Jua, Sajak Buah Rindu (1941), Sajak Hang Tuah dalam Buah Rindu dan Sajak Batu Belah dalam Nyanyi Sunyi. Puncak karyanya adalah Nyanyian Sunyi dan Buah Rindu
4. Pengarang-pengaran lain.


c. Sastrawan Angkatan 45
Sastrawan yang berkiprah dan hasil karyanya pada angkatan ini antara lain adalah :
1. Chairil Anwar
Chairil Anwar adalah pelopor Angkata 45 ini, sebagi pengerak dan pembaharuan dalam bentuk dan visi perpuisian. Sajaknya sendiri revolusioner bentuk dan isinya, sajaknya meledak-ledak yang memperlihatkan jiwa yang berontak terhadap penjajahan pada waktu itu. Chairil Anwar lahir di Medan 25 Juli 1922 dari orang tua yang berasal dari Payakumbuh. Ia sekolah di Sekolah HIS Medan kemudian MULO juga di Medan tapi hanya sampai kelas dua saja. Ia meninggal 28 April1949 dalam usia belum lagi 27 tahun. Anwar dikenal sebagai sastrawan tahun 1943 beberapa bulan setelah Jepang mendarat di Indonesia. Ia telah menulis 70 sajak asli, 4 sajak saduran, 10 sajak terjemahan, 6 prosa asli dan 4 prosa terjemahan, semua ini dibukukan dalam kumpulan sajak Deru Campur Debu (1949), Kerikil Tajam dan Yang Terhempas dan Yang Terputus (1949) dan sajak-sajaknya bersama Asrul Sani dan Rivai Apin yang dikumpulkan dalam Tiga Menguak Takdir (1950). Karya puncaknya adalah Kumpulan sajak Deru Campur Debu.
Puisi krawang – Bekasi yang diambil dari Kerikil Tajam dan Yang Terhempas dan Yang Putus:
KRAWANG – BEKASI
Kamiyang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
Tidak bisa lagi teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi

Tapi siapa yang tidak lagi mendengar deru kami,
Terbayang kami maju dan berdegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang dilipiti debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-6 ribu nyawa
Kami Cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir

Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi.
( Chairil Anwar )
2. Idrus dengan karyanya adalah Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, Novel Aki, Sandiwara Jibaku Aceh, Dokter Bisma dan Keluarga Surono, terjemahan karangan asing seperti Kereta Api Baja, Hari Penciptaan Pertama, Roti Kita Sehari-hari, Sepuluh Tenaga Kuda., Novel Surabaya. Dan karya puncaknya adalah Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
3. Muchtar Lubis dengan karyanya Novel, Tak Ada Esok (1950), Jalan Tak Ada Ujung (1952), Senja Di Jakarta , Tanah Gersang (1966), Maut dan Cinta, Harimau-harimau, cerpen Si Jamal (1950) dan Perempuan (1956), puncak karyanya adalah Surabaya dan Jalan Tak Ada Ujung.
4. Pramudya Ananta Tur dengan karyanya Keluarga Gerilya (1949)
5. Sitor Situmorang dan pengarang-pengarang lain.

d. Sastrawan Angkata 50-an ( Angkatan 66).
Sastrawan yang berkiprah dan hasil karyanya pada angkatan ini antara lain adalah
1. Nugroho Notosusanto
Nugroho Notosusanto termasuk salah seorang Tentara Pelajar yang aktif ikut gerilya pada zaman revolusi fisik di Jawa Tengah. Ia lahir di di Rembang tahun 1930. Sebagai pengarang cerpen, penulis esei dan sajak, beliau lulus sarjana sastra sejarah di FS_UI Jakarta, kemudia bergelar Doktor dan menjadi protesor , berbakti sebagai dosen, guru besar dan Rektor Universitas Indonesia. Ia juga dikenal sebagai sejarawan dan mengabdikan diri pada Pusat Sejarah ABRI dengan pangkat Brigjen TNI-AD. Sebelum meninggal beliau menjabat sebagai Menteri P dan K RI. Beliau mengarang Cerpen Hujan Kepagian (1958). Kumpulan cerpennya yang lain Tiga Kota (1959) dan Rasa Sayange (1963).
Pada umumnya cerpen-cerpennya menyuguhkan tema kemanusiaan yang dijalani dalam gaya penceritaan yang lincah dan humoris, seperti pada cerpennya Bayi dikisahkan dalam suatu pertempuran sengit, dua musuh berhadapan yaitu serdadu Belanda dan seorang gerilya Republik. Tiba-tiba keduanya dikagetkan oleh suara jerit bayi di sebuah gubuk. Kedua tentara itu saling pandang., lalu serentak memeriksa sang bayi. Keduanya menyelamatkan sang bayi dan ibunya dari medan pertempuran demi kemanusiaan…
Karya puncak Nogroho Notosusnto adalah Hujan Kepagian.
2. Ali Akbar Navis dengan karyanya Kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami (1956), Hujan Panas(1964), Bianglala (1964) dan novel Kemarau (1967). Karya puncaknya adalah Robohnya Surau Kami.
3. Trinoyowono dengan karyanya Kumpulan cerpen Laki-laki dan Mesiu (1957), Pagar Kawat Berduri (1962), angin Laut (1965), Di Medan Perang (1961), Kisah-kisah Revolusi (1965) dan roman Bulan Madu (1962). Karya puncaknya adalah Laki-laki dan Mesiu.
4. Toto Sudarto Bachtiar dengan karyanya kumpulan sajak Atsa (1958), Suara (1956), Surya (1956) , Cerpen pengarang asing dikumpulkannya dalam Bunglon (1965). Karya puncaknya adalah sajak Suara dan Bunglon.
5. W. S. Rendra dengan karyanya kumpulan sajak Balada Orang-orang Tercinta (1957), sajak-sajak Duabelas Perak dan Nyanyian dari jalanan dan Malam Stanza (1956), kumpulan sajak kakawinan, sajak –sajak Sepatu Tua, Mazmur Mawar, Potret pembangunan dalam puisi dan Aku Tulis Pamflet ini, Nyanyian Angsa, Pesan Pencopet kepada Istrinya dalam blues untuk Bonnie, Ia sudah bertualang (1963), terjemahan-terjemahan serta drama-drama eksprerimen. Karya puncaknya adalah Balada Orang-orang Tercinta.
6. Pengarang-pengarang lain.

e. Sastrawan Angkatan 70-an / Mutakhir.
Sastrawan yang berkiprah dan hasil karyanya pada angkatan ini antara lain adalah
1. Sutardji Calzoum Bachri merupakan tokoh penyair yang paling menonjol dan terkemuka di antara sastrawan angkatan 70-an. Berkat gagasan pembaharuan puisi yang dikemukannya dan pembacaan sajaknya khas dan menarik perhatian. Puisi-puisinya menunjukkan orisinalitas, mengikuti konvensi kepuitisan berupa bentuk visual yang secara lingustik nonsense (tak mempunyai arti), tetapi menimbulkan makna dalam sajak, hanya menggunakan pembaitan, enjambeman, rima dan tipografi seperti sajak Tragedi Winka & sihka. Sutradji lahir 24 Juni 1941 di Rengat (Riau) . Pendidikan terakhirnya adalah Jurusan Administrasi Negara, Fakultas Sosial dan Politik Universitas Padjadjaran , Bandung. Karyanya sajak Tragedi Winka & Sihka, Amuk, O (1973), Kapak (1979) ketiganya ini diterbitkan dalam satu buku yang berjudul O Amuk Kapak, Luka dan sebagainya. Karya puncaknya adalah Amuk.
Sajak Sutardji Amuk :
Amuk
….. aku bukan penyair sekedar
aku depan
depan yang memburu
membebaskan kata
memanggilMu
pot pot pot
pot pot
kalau pot tak mau pot
biar pot semua pot
mencari pot
pot
hei kau dengan manetraku
Kau dengan kucing memanggilMu
Izukalizu
Mapakazaba itasatali
Tutulita
Papaliko arukabazaku kodega zuzukalibu
…………………………………………..
2. Abdul Hadi W.M dengan karyanya Laut Belum Pasang (1971), Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975), Cermin (1975), Meditasi (1975), dan Tergantung pada Angin (1977), Baithul Makdis, Pada Malam Isra dan Mi’raj Elegi I dalam potret, Dari Tawangmangu,Tuhan, Kita Begitu Dekat dan lain-lain. Karya puncaknya adalah Potret.
3. Putu Wijaya dengan karyanya adalah Drama Dalam Cahaya Bulan (1964), Bila Malam Bertambah Malam (1965), Invalid, Matahari Yang Terakhir (1964), Burung Gagak (1966), Tak Sampai Tiga Bulan (1967), Orang-orang Malam (1966), Lautan Bernyanyi (1967), Tidak (1969), Almarhum (1969), Dapdap (1969) dan Orang-orang Mandiri (1971), Telegram (1977), Stasiun (1977), Pabrik (1976), Tak Cukup Sedih Ratu Sah (1978), Es (1974), kumpulan puisi Dadaku adalah Perisaiku (1974) dan film Tiba-tiba Malam (1978). Karya puncaknya adalah Telegram
4. Yudistira Ardinugraha dengan karyanya Drama Wot Atawa Jembatan dan Ke, novel Mencoba Tak Menyerah (1979), Arjuna Mencari Cinta (1977), Ding Dong (1978), kumpulan sajak 1978 Omong Kosong, sajak Sikat Gigi, Arjuna Mencari Cinta II dan lain-lain. Karya puncaknya adalah Arjuna Mencari Cinta.
5. Linus Suryadi A.G dengan karyanya adalah Pengakuan Pariyem (1981) , kumpulan sajak Langit Kelabu (1976), Syair-syair dari Yogya (1978). Karya Puncaknya adalah Pengakuan Pariyem.
6. Leon Agusta dengan karyanya kumpulan sajak Monumen Safari (1966) bersama Chairul Harun, Rusli Marzuki, Saria dan Z.Bakry, Catatan Putih (1975) dan Hukla Matahari dan Bulan.
6. Hamid Jabar dengan karyanya adalah kumpulan puisi Dua Warna (1974), Paco-paco (1974) dan Wajah Kita (1981)
7. Eka Budijanta dengan karyanya kumpulan sajak Ada (1976), Bang-bang Tut (1976), Bel (1977) Rel (1978) Sabda Barsahut Sabda (1978) dan Sejuta Miliyar Satu (1984).
8. F. Rahardi dengan karyanya kumpulan sajak Soempah WTS (1983), Catatan Harian Sang Koruptor (1985),dan lain-lain.
9. Emha Ainun Najib dengan karyanya kumpulan puisi “M” Frustasi , Sastra yang membebaskan (1984), Bagian Sangat Penting dari Desa Saya (1983). Karya puncaknya adalah kumpulan puisi “M” Frustasi.
10. Pengarang-pengarang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar